Waduk Gajah Mungkur

Posted On 19 Februari 2009

Filed under Wisata Alam

Comments Dropped leave a response

waduk gajah mungkur

waduk gajah mungkur

Waduk gajah mungkur,terhampar diatas wilayah bebatuan cadas, merupakan danau buatan yang diresmikan keberadaannya pada tahun 1978, dengan resminya ribuan desa ditenggelamkan di kabupaten wonogiri, yang oleh karenanya ‘sitiung’ kebanjiran imigran ‘bedol desa’.

Banyak sejarah, kenangan manis dan luka yang ditenggelamkan bersama sisa peradaban masyarakat petani ladang kering atau cadas di wilayah tersebut.
Akan tetapi, selalu seperti sisi mata uang, ada duka ada suka, seperti orang cina mempercayai bahwa kekuatan air adalh kekuatan kemakmuran, oleh karenanya sisi utara setiap ruangan persegi atau arah mata angin rumah, dianggap sebagai sisi yang mendatangkan rezeki dan dilambangkan dengan air, begitu pula kehidupan di wonogiri dan bahkan sekitarnya ( sukoharjo, klatenmenjadi kaya raya dengan sistem irigasi nya) mendapatkan berkah dari peristiwa ‘pemaksaan’ bedol desa ini.
Percaya tidak percaya, semua pintu utama rumah di daerah sekitar waduk harus mengahadap ke utara!.

Gajah mungkur telah memberi kehidupan pada masyarakat disekitarnya dalam banyak representasi. Mulai dari berlimpahnya energi listrik tenaga air, kekayaan delta pada daerah aliran sungai yang dimanfatkan sebagai ladang kagetan pada musim surut, kekayaan ikan air tawar yang dimulai penyebaran satu juta ekor benih oleh mantan pres. RI ke 2, pun peresmiannya ( karena beliau besar di satu kecamatan, bernama wuryantoro bersama sudwikatmono. Bahkan, kemudian di organisasikan sistem pembenihan dan pemeliharaan ‘ karamba terapung’ yang pada akhirnya membuahkan sebuah restoran terapung ‘ karamba terapung’ yang mengkhususkan pada menu ikan air tawar saja ( wader dan sogo/sogol).
belum lagi kesenangan lain seperti olahraga air yang berada di taman waduk gajah mungkur yang selalu ramai ruah saat liburan anak sekolah dan lebaran, atau olahraga gantole yang setiap tahun, kompetisinya diadakan di salah satu perbukitan tertinggi di sisi waduk ini.

Akan tetapi, semenjak tulisan terakhir yang saya buat 15 tahun silam, tentang ancaman daerah aliran sungai(DAS) pada Waduk Gajah Mungkur, dengan prediksi pendangkalan yang masih akan berlangsung 50 tahun kedepan, maka kabar terakhir yang saya dapat, pendangkalan terjadi 25 tahun lebih dini. Tapi pada kenyatannya hal ini dapat diamati oleh mata telanjang.
Saya yang hanya menikmati keindahan waduk tersebut kurang lebih 9 tahun lamanya, yang selalu menyanyikan lagu ‘berdiri diatas bahtera’ ketika bermain dengan ombaknya, yang pernah hampir ‘….’tenggelam karena kenakalan diri sendiri yg pura2 tenggelam, yang menjadi ‘kusi’ karena terlalu sering bermain air pegunungan seribu itu, yang pernah mencuci dan mandi di situ, termasuk memandikan kambing – kambing saya, yang pada saat surutnya membuat saya bisa melintasi desa manapun dari tengah waduk, yang membuat para orang tua bernostalgia tentang masa lalu, yang membuat mereka dapat mengatakan tepat bekas rumah siapa tempat kita berdiri, bekas sumur siapa, bahkan bekas kandang kambing siapa, atau kuburan siapa, semua masih bersisa. Sehingga jika saya berjalan atau menggembala kambing – kambing saya, saya harus berhati – hati, karena banyak sumur mati yang terbuka begitu saja, dan tampak akibat penyurutan air.
Pada air yng surut, pemandangan DAS berganti dengan kehijauan rumput jarum dan tanaman palawija, yang dibentengi dengan pegunungan cengep yang teduh dan pegunungan seribu pada arah yang berlawanan, kalau beruntung, lawu akan dengan sombongnya menampakan kebekuanya.

Namun, masa berganti, sepuluh tahun menjelang, semua itu tidak ada lagi. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai kemajuan saya menambahkan ‘peradaban’. Kemajuan peradaban. Banyak bangunan berbeton di bangun di sepanjang sabuk penghijauan yang berfungsi sebagai rumah makan ikan bakar, yang selalu ramai oleh mobil berplat jakarta dan sekitar wonogiri ( dan bukan plat AD, Plat surakarta dan wonogiri), banyak hotel di bangun kendati kualitas pelayanan senin kamis, dan karamba terapung lenyap, di ganti dengan keberadaan nelayan pada setiap desa di sekitarnya. Sekarang wonogiri mengenal ‘ kemacetan lalulintas’
Tidak ada lagi kemanisan perjalanan 15 menit dari ibu kota menuju rumah, yang di dominasi oleh kelokan tebing di sebelah kanan jalan dan hamparan air serta kelandaian ibukota disebelah kiri jalan. Tidak ada lagi keanggunan air yang berwarna hijau tua terkadang hijau muda, terutama ketika hari sangat cerah dan tak ada lagi keasyikan menghitung jumlah jembatan yang saya lalui ketika pulang kerumah, karena pemandangan alamnya tak seindah dulu lagi. Keteduhan air dan kelandaian kota wonogiri dari landasan gantolepun, tak lagi menarik perhatian. Padahal di tempat ini dulu, kami sering menikmati bintang dan matahari dalam diam.
Alam menjadi tidak ramah, batin saya. Sejak pukul 9 pagi sampai pukul 3 sore, saya terkapar tidak berdaya kepanasan. baru setelah pukul 3 sore, alam menjadi begitu romantis. Ah.. setidaknya sensasi musim gugur yang saya rasakan setiap pukul 3 sore, masih ada! 20 tahun saya merasakannya, dan tidak pernah berubah!

Hanya sentimen musim gugur saja yang masih membuat saya menginjakkan kaki di kota gajah mungkur itu, selain kenangan akan makanan khasnya yang memang ‘membekas’ dihati. tapi setidaknya, setiap orang masih terhibur dengan ‘ kemajuan peradaban’ tersebut, rumah makan ikan bakar di sepanjang daerah sabuk hijau terebut, memang enak. Duduk memandang hamparan waduk dengan hidangan panas di depan mata dan bau yang menggugah selera. Kendati waduk merana, toh pendapatan perkapita mereka masih tinggi, dan, para perantaunya,dalam diam mereka, pantang kembali kalau tidak berhasil.
ya, sediam gunung gajah mungkur yang masih setia mungkur, bahkan ketika waduk gajah mungkur, tidak lagi mungkur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s