Wisata Spiritual

1.KAHYANGAN

kahyangan

kahyangan

Kahyangan merupakan tempat wisata spiritula. Disini konon merupakan tempat petilasan (bekas) tempat Panembahan Senopati Ing ngalogo ( Pendiri Kerajaan Mataram Islam ) bertapa. Pada suatu hari dalam pertapaannya, didatangi Ratu laut selatan (Ratu Nyai Roro Kidul), yang bersedia membantu Panembahan Senopati untuk menjadikan raja di Tanah Jawa, dengan syarat semua Raja Mataram mau menjadi suami Nyai Roro Kidul. Dan akhirnya Panembahan Senopati bisa menjadi Raja di Mataram.<!–more–>
Sehingga sampai sekarang tempat ini banyak dikunjungi wisatawan lokal, terutama warga Yogyakarta, untuk bertirakat disini, apalagi di malam Jum’at Kliwon. Terutama warga Yogyakarta, yang merasa hidupnya telah berhasil, baik menjadi pejabat ataupun orang kaya, yang diperantauan ataupun yang tinggal di Yogyakarta dan sekitarnya.
Dan untuk warga di Wonogiri sendiri, tempat ini bisa dijadikan alternatif untuk melepas ketegangan setelah sekian lama bekerja. Disini bisa kita jumpai Kebun binatang mini ( Monyet dan burung ). Disamping itu bagi para petualang, perbukitan dikahyangan bisa dijadikan tempat untuk melemaskan otot, dengan mendaki bukit diatas air terjun. Dan khusus dibulan Syaban, terutama sehari menjelang bulan Ramadhon, banyak warga sekitar mandi2 (padusan) di sungai (kedhung) dibawah air terjun. ( Peringatan, kalau main2 ditepi kedhung harap hati2. Karena bebatuan disini licin, sehingga bisa mengakibatkan terpeleset) dan jatuh kedalam kedhung.
Transportasi, dari Wonogiri naik Bus Mini, tujuan Tirtomoyo. Turun di terminal Tirtomoyo, naik Angdes (Colt), tujuan Kahyangan. Ongokos kira2 Rp 3000 – Rp 4000
Bagi yang membawa kendaraan sendiri, dari Wonogiri (Perempatan Ponten) belok kiri, kejurusan Ponorogo. Sekitar 10 KM perjalanan, sampai Ngadirojo, belok Kanan, ke jurusan Baturetno. Kira2 30 menit perjalanan (kecepatan sedang), sampailah dipertigaan Karang Turi. Ambil jalan lurus, melewati jembatan. (Jembatan besar kearah Batu Retno).
Sekitar 3 Km dari sini, akan dijumpai pertigaan kearah kanan dan jembatan besar. Ikuti arah jembatan itu. 1 Km dari situ, terdapat pertigaan jalan yang salah satu sudutnya ada lapangan Banyak Prodo, belok kiri. Ikuti jalan beraspal, melewati Bedhingin, Cangkring dan kemudian Taman. Jangan lupa mampir ke Abah House. Jika anda kehabisan Bensin, bisa tambah bensin di Depot bahan bakar Abah, sekalian ganti olie. Kalo perlu, disebelah ada warung nasi dan minum.
Setelah kendaraan terisi bahan bakar, perjalan bisa dilanjutkan shingga sampai pertigaan Tumpuk.Ikuti jalanan yang menanjak, telusuri jalanan yang beraspal, sampai terminal Kahyangan.
Selanjutnya sedikit berjalan kaki, sampailah diair terjun, beserta gua kecil tempat/ petilasan pertapaan Panembahan Senopati.
Selamat menikmati perjalanan anda, semoga selamat sampai tujuan, dan kembali dirumah dengan badan kembali fresh lahir bathin.

2.Makam Ki Ageng Pantaran

Makam ki Ageng Pantaran

Makam ki Ageng Pantaran

Tradisi bukak lurup atau membuka kain penutup makam Syeh Maulana Ibrahim Maghribi di Dukuh Pantaran Desa Candisari Kecamatan Ampel, Boyolali, sampai sekarang masih dilestarikan masyarakat sekitar. Bahkan dalam setiap acara ritual, ribuan orang dari berbagai daerah berdatangan di kompleks makam tersebut. Upacara ritual tersebut sudah menjadi tradisi setiap tahun yang berlangsung secara turun-temurun sejak nenek moyang, dilaksanakan pada hari Jumat pekan terakhir di bulan Sura. Sejak pagi hari warga sudah berbondong-bondong datang dengan sabar menanti rangkaian acara. Bahkan ratusan warga telah datang ke makam yang berada disebelah barat Dukuh Pantaran itu, sejak malam sebelumnya. Mereka ada yang menginap di kompleks pemakaman Ki Ageng Pantaran tersebut. Mereka melakukan ziarah dan berdoa di makam Syeh Maulana Ibrahim Maghribi. Ngalap berkah, agar keinginannya kesampaian. Usai acara pun masih banyak warga yang berdatangan ke makam. Warga berdesakan masuk ke makam Syeh Maulana Ibrahim Maghribi untuk memanjatkan doa.
Menurut Sardjono, juru kunci makam, Ki Ageng Pantaran adalah salah seorang tokoh penyebar agama Islam yang hidup di zaman kerajaan Demak Bintoro. Jasa Ki Ageng Pantaran banyak dikenal masyarakat setempat, ketika berhasil mendirikan masjid di tempat itu. ”Masjid inilah yang disebut masjid Pantaran yang artinya seusia atau sepantaran dengan pembangunan masjid Demak Bintoro,” kata Sardjono.
Konon, wilayah yang kemudian dinamakan Desa Pantaran itu semula kondisinya gersang. Tetapi kemudian menjadi makmur setelah Ki Ageng Pantaran bersama salah seorang pertapa berhasil menemukan mata air besar di perut gunung Merbabu. Mata air tersebut kini dikenal dengan nama Grojokan Sipendok. Airnya mengalir jernih melalui sungai yang membelah Desa Pantaran.
Pada setiap acara riual akhir bulan Sura tersebut, para pengunjung tidak hanya berasal dari wilayah Boyolali. Tetapi juga banyak yang berasal dari luar Boyolali, seperti Semarang, Grobogan, Yogja, Solo, Magelang, Jawa Timur, Jakarta, bahkan Sumatera. Hawa dingin di lereng gunung Merbabu itu tak menyurutkan warga untuk mengikuti ritual buka luwur di makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi atau Ki Ageng Pantaran.
Rangkaian prosesi ritual diawali dengan kirab kain lurup makam Ki Ageng Pantaran, berikut sesaji lainnya dari rumah juru kunci makam, Sardjono. Sedangkan warga sekitar datang ke makam dengan membawa makanan dan lauk pauknya, untuk kenduri di makam. Kemudian dilanjutkan prosesi penggantian lurup, tabur bunga, tahlil, kenduri dan doa, serta diakhiri dengan tradisi ngalap berkah.
Prosesi itulah yang paling dinanti pengunjung. Usai pembacaan tahlil dan doa, ratusan warga langsung merangsek ke sisi utara makam. Mereka berebut sesaji dan potongan kain mori bekas lurup makam Syeh Mauluana Ibrahim. Nasi kuning dalam takir dan beras kuning yang sudah dibungkus kertas kecil juga diperebutkan. Ubarampe lain berupa janur kuning dan tebu wulung juga diambil oleh pengunjung. Sementara itu, makanan yang dibawa oleh warga setempat juga dibagi-bagikan kepada pengunjung.
”Selama ini, setiap kali diselenggarakan upacara tradisi bukak lurup, warga memang selalu berdesak-desakan untuk mendapatkan aneka sesaji yang dibagikan oleh panitia,” jelas Sardjono.

Leave a response and help improve reader response. All your responses matter, so say whatever you want. But please refrain from spamming and shameless plugs, as well as excessive use of vulgar language.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.