Pariwisata di Wonogiri

1.WADUK GAJAH MUNGKUR

waduk gajah mungkur

waduk gajah mungkur

Waduk gajah mungkur,terhampar diatas wilayah bebatuan cadas, merupakan danau buatan yang diresmikan keberadaannya pada tahun 1978, dengan resminya ribuan desa ditenggelamkan di kabupaten wonogiri, yang oleh karenanya ‘sitiung’ kebanjiran imigran ‘bedol desa’.

Banyak sejarah, kenangan manis dan luka yang ditenggelamkan bersama sisa peradaban masyarakat petani ladang kering atau cadas di wilayah tersebut.
Akan tetapi, selalu seperti sisi mata uang, ada duka ada suka, seperti orang cina mempercayai bahwa kekuatan air adalh kekuatan kemakmuran, oleh karenanya sisi utara setiap ruangan persegi atau arah mata angin rumah, dianggap sebagai sisi yang mendatangkan rezeki dan dilambangkan dengan air, begitu pula kehidupan di wonogiri dan bahkan sekitarnya ( sukoharjo, klatenmenjadi kaya raya dengan sistem irigasi nya) mendapatkan berkah dari peristiwa ‘pemaksaan’ bedol desa ini.
Percaya tidak percaya, semua pintu utama rumah di daerah sekitar waduk harus mengahadap ke utara!.

Gajah mungkur telah memberi kehidupan pada masyarakat disekitarnya dalam banyak representasi. Mulai dari berlimpahnya energi listrik tenaga air, kekayaan delta pada daerah aliran sungai yang dimanfatkan sebagai ladang kagetan pada musim surut, kekayaan ikan air tawar yang dimulai penyebaran satu juta ekor benih oleh mantan pres. RI ke 2, pun peresmiannya ( karena beliau besar di satu kecamatan, bernama wuryantoro bersama sudwikatmono. Bahkan, kemudian di organisasikan sistem pembenihan dan pemeliharaan ‘ karamba terapung’ yang pada akhirnya membuahkan sebuah restoran terapung ‘ karamba terapung’ yang mengkhususkan pada menu ikan air tawar saja ( wader dan sogo/sogol).
belum lagi kesenangan lain seperti olahraga air yang berada di taman waduk gajah mungkur yang selalu ramai ruah saat liburan anak sekolah dan lebaran, atau olahraga gantole yang setiap tahun, kompetisinya diadakan di salah satu perbukitan tertinggi di sisi waduk ini.

2.AIR TERJUN SETREN

Air Terjun Setren

Air Terjun Setren

Air Terjun Setren merupakan obyek wisata pilihan yang tidak kalah menariknya dengan Air Terjun Tawangmangu, terletak di Kecamatan Slogohimo kurang lebih 30 Km arah timur Kota Wonogiri menuju Ponorogo (Jawa Timur). Pemandangan yang masih alami dengan panorama perbukitan dan air terjun, agrowisata sangat tepat untuk wisata kalangan muda-mudi dan para pecinta alam.

Kecamatan Slogohimo merupakan salah satu kecamatan andalan penghasil pendapatan asli daerah (PAD) Wonogiri. Apalagi jika ditilik dari letak geografis, maka wilayah Slogohimo menjadi daerah persimpangan yang cukup ramai. Jika ke timur, akan menuju wilayah Kecamatan Purwantoro yang menjadi daerah perbatasan dengan wilayah Jawa Timur, sementara jika ke selatan akan menembus wilayah Jawa Timur pula.
Potensi alam pegunungan menjadi salah satu sumber penghasil devisa domestik, yakni air terjun Girimanik yang berada di Desa Setren. Daerah ini bisa dikatakan menyerupai daerah Tawangmangu, Karanganyar, cuma daerah Setren belum begitu dikenal oleh masyarakat luas.
Namun jika ditilik dari kondisi alam, keindahan dan kesejukannya sama dengan wilayah Tawangmangu yang dingin.
Oleh karena itu, sejak tahun 2000, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri mencoba mengembangkan wisata alam pegunungan air terjun Girimanik.
Camat Slogohimo, Soemarjo, mengatakan kekayaan alam pegunungan menjadi salah satu andalan daerah Slogohimo. Bahkan, Pemkab Wonogiri juga menaruh harapan besar dari daerah pegunungan Girimanik.
Alasannya, daerah pegunungan Girimanik jika dikembangkan secara maksimal akan mampu menghasilkan pendapatan asli daerah.
Di pegunungan Girimanik juga terdapat wisata spiritual, sehingga di wilayah Wonogiri wisata spiritual bisa dijumpai di Kecamatan Tirtomoyo, Paranggupito dan Slogohimo. “Girimanik menyimpan potensi pariwisata yang bisa menjadi andalan Kabupaten Wonogiri untuk pemasukan PAD,” jelasnya.
Di wisata alam Girimanik terdapat tiga air terjun, yakni air terjun Manikmoyo, air terjun Condromoyo, dan air terjun Tejomoyo. Daya tarik fisik berupa pemandangan alam pegunungan yang asri dan alami, menjadikan air terjun tersebut bisa jadi andalan pengembangan pariwisata. “Karena dilengkapi dengan Sendang Drajat dan Sendang Kanastren sehingga menjadi daya tarik tersendiri.”
Setiap tahun, di Setren dilangsungkan upacara adat susuk wangan, yakni upacara syukur dari warga Setren atas hasil bumi yang diraih. Saat upacara susuk wangan itu, pengunjung wisata bisa melihat ratusan ayam panggang yang dipersembahkan oleh para petani kepada Sang Khalik.
“Pemkab Wonogiri telah membangun jalan sepanjang 12 km, namun saat ini terkendala nota kesepahaman atau MoU antara perum Perhutani dengan Pemkab Wonogiri,” urainya.
Setiap liburan, pengunjung wisata Girimanik sudah cukup banyak. “Sementara pengelolaan ditangani pihak desa, sehingga pemasukan yang ada untuk kas desa.”
Selain itu, hutan Donoloyo yang ditumbuhi pohon jati ukuran besar menjadi salah satu potensi yang dikembangkan oleh Kecamatan Slogohimo. “Hutan tersebut merupakan petilasan zaman Kerajaan Majapahit dan setiap Kamis malam dipadati pengunjung. Bahkan saka (tiang) bangunan Keraton Solo berasal dari kayu jati Donoloyo.”
Wilayah Kecamatan Slogohimo dikenal oleh masyarakat sebagai penghasil buah durian. Durian dari Slogohimo sering dikirim ke Jakarta atau kota-kota besar lain. Terlebih buah durian dari Slogohimo memiliki kekhasan, yakni enak.
Buah durian sangat potensial dan cocok dikembangkan di wilayah Slogohimo.”Utamanya di daerah utara, masyarakat sangat banyak menanam pohon durian. Pohon durian berkembang di empat desa dengan tidak kurang 10.000-an batang ditanam oleh masyarakat,” jelasnya.
Empat desa sentral durian adalah Desa Slogohimo, Sedaya, Gunan, dan Sokoboyo. Untuk menunjang agrobisnis, di Desa Setren juga akan dikembangkan tanaman durian. Dinas Pertanian Wonogiri telah memberikan bantuan sebanyak 400 batang bibit durian untuk dikembangkan di Setren. Selain itu, guna menunjang wisata alam dan wisata agrobisnis, masyarakat juga mulai menanam dan mengembangkan tanaman stroberi dan nilam (dilem).
Tanaman stroberi, saat ini dikembangkan oleh anggota Kelompok Tani Girimanik. ”Lahan di Girimanik memang sejuk sehingga cocok untuk dikembangkan tanaman stroberi. Sebanyak 400 batang telah dikelola Kelomtan Girimanik dengan luas lahan satu hektare. Tanaman itu dikembangkan dan dikelola oleh 10 kepala keluarga.”
Yang cukup menggembirakan justru tanaman nilam atau dilem. Tanaman untuk bahan kosmetik ini cukup produktif dan mampu membawa peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tanaman nilam sementara ini dikembangkan di empat desa dengan rata-rata pohon sebanyak 5.000 hingga 10.000 batang.
Di Desa Made dan Soco dikembangkan masing-masing 10.000 batang di lahan seluas satu hektare. Desa Klunggen mengembangkan 5.000 batang di lahan setengah hektare dan Desa Bulusari mengembangkan 11.000 batang di lahan seluas 1,1 ha. Prosesnya, tanaman yang sudah dewasa dikeringkan dan disuling. Hasil penyulingan tahun ini dihasilkan 8 kuintal bahan atau 23 kg minyak. Harga per 1 kg minyak nilam antara Rp 250.000 hingga Rp 300.000. ”Untuk pemasaran tidak kesulitan, sebab saat panen sudah ada yang menunggu. Inovasi-inovasi masyarakat itu ternyata mampu menanggulangi angka pengangguran dan kemiskinan. Dan untuk tanaman Nilam memang sangat menjanjikan.”
Selain di bidang agrobisnis, masyarakat Slogohimo juga berkecimpung dalam home industry. Di antara home industry yang sudah berkembang dan menyerap tenaga kerja adalah rotan dan jamu instan.
Untuk kerajinan rotan, pemasaran hasilnya bisa ke berbagai negara karena sistem yang dilakukan oleh pengrajin adalah menyelesaikan pesanan. Kerajinan rotan ini dikembangkan oleh 20 KK dan menjadi penghasilan oleh masyarakat Desa Tunggur. Sementara untuk kerajinan jamu instan dikembangkan di Desa Slogohimo. ”Bahan yang dimanfaatkan pengrajin dari empon-empon baik itu kunir, jahe, temulawak dan mahkota dewa. Jamu instan ini selalu ikut pameran dan sudah dijajakan di seluruh wilayah Wonogiri.”

3.CANDI GEDONG SONGO

Candi Gedong Songo

Candi Gedong Songo

Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di Desa Candi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di kompleks candi ini terdapat lima buah candi.

Candi ini diketemukan oleh Raffles pada tahun 1804 dan merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9 (tahun 927 masehi).

Candi ini memiliki persamaan dengan kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Candi ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut sehingga suhu udara disini cukup dingin (berkisar antara 19-27°C)

Lokasi 9 candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran ini memiliki pemandangan alam yang indah. Di sekitar lokasi juga terdapat hutan pinus yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang.

Kata “Gedong Songo” berasal dari bahasa Jawa “Gedong” yang berarti bangunan dan “Songo” yang berarti sembilan. Dulunya, nama kompleks candi ini disebut “Gedong Pitu” alias Gedong Tujuh, karena saat pertama kali ditemukan oleh Gubernur Jendral Raffles tahun 1740, ada 7 candi. Kemudian ditemukan lagi 2 bangunan candi sehingga disebut dengan “Gedong Songo”.

Meski namanya Gedong Songo, namun cuma 5 candi saja yang masih berdiri kokoh. Empat candi lainnya cuma tertinggal puing. Semua candi ini terletak menyebar di beberapa bukit ke atas, dengan urutan candi nomor satu berada di paling bawah, kemudian berurutan hingga ke atas.

Selain candi, di kompleks obyek wisata ini terdapat taman bermain dengan berbagai fasilitas pemainan, hutan pinus yang nyaman untuk berekreasi dengan keluarga, ladang-ladang sayuran milik penduduk sekitar, serta bumi perkemahan. Tak jarang pula, pendakian ke puncak Gunung Ungaran juga dimulai dari kompleks ini.

Menurut informasi yang saya peroleh, konon di kawasan candi yang bersuhu sekitar 20° Celcius ini ternyata memiliki kekuatan bio energi terbaik di Asia. Bahkan bio energi di kompleks ini lebih baik dari Pegunungan Tibet atau pegunungan di Asia lainnya.Berlibur ke tempat ini, selain menambah wawasan budaya juga mampu memberi kesegaran karena panorama dan hawa sejuk yang ada.

Menilik sejarah, candi ini ndak ada yang tau secara pasti siapa yang membangun. Tetapi melihat dari bentuk arsitekturnya, diperkirakan candi ini dibangun pada abad ke-9 oleh Wangsa Syailendra, walau ada versi lain yang menyebutkan dibangun oleh Raja Sanjaya.
Menurut fungsinya, diperkirakan candi ini digunakan selain untuk pemujaan juga digunakan untuk pemakaman.
Candi Gedong Songo, selain memberikan wawasan budaya, keindahan alamnya bisa menjadi alternatif lokasi wisata anda

4.OBJEK WISATA ALAS KETHU

Objek wisata Alas Kethu

Objek wisata Alas Kethu

Alaska adalah singkatan dari Alas Kethu, kawasan hutan di bagian utara Wonogiri yang kini sedang ramai dibicarakan. Disengketakan.

Antara keinginan bupati Begug Purnomisidi yang ingin menjadikan Alas Kethu sebagai kompleks pabrik etanol, bermitra dengan perusahaan dari Cina. Pabrik dengan bahan baku singkong ini diproyeksikan akan menyerap 15 ribu tenaga kerja. Klaim yang bisa diperdebatkan. Tapi ia bersikukuh, kalau proyek ini gagal, ia akan mundur.

Sementara itu kubu yang menentang adalah mereka yang pro lingkungan hidup, ingin menyelamatkan hutan itu dari keruasakan atau kepunahan, karena berfungsi sebagai paru-paru kota Wonogiri dan sebagai daerah resapan air.

Yang pasti, sekilas cerita tentang Pasadena atau Alaska itu seolah mencitrakan Wonogiri yang sedang bergulat antara masa lalu dan masa depan. Katakanlah, warnet Pasadena merupakan simbol yang mencerminkan orientasi Wonogiri terhadap masa depan. Era informasi.

Karena warnet ini, dan sekitar sepuluh warnet lainnya di kota Wonogiri, menjadi wahana bagi warga kota gaplek yang melek Internet untuk mampu merengkuh dunia. Sementara isu mutakhir tentang Alaska, alias Alas Kethu, yang melibatkan wacana dengan kata-kata kunci pabrik, singkong sampai buruh, jelas mewakili mazhab dari dunia atau era agraris dan industri.Terancam. Jalanan Alas Kethu masih lengang ketika anak-anak nampak berangkat ke sekolah. Kalau hutan di sekitar mereka lewat itu kelak menjadi industri, jalan diperlebar, mobil lalu lalang, maka keindahan pagi yang sunyi di hutan ini hanya tinggal dalam impian.

Mental kelangkaan. Debat tentang Alas Kethu itu melemparkan saya untuk mengenang isi laporan Harian Kompas tentang profil Wonogiri. Kalau tidak salah ada empat seri tulisan, di tahun 1980-an. Tahun 1980 itu adalah tahun pertama saya menginjak kota Jakarta. Sebagai mahasiswa di kampus Rawamangun, Universitas Indonesia. Artikel itu memercikkan kebanggaan saya sebagai orang Wonogiri.

Sayang, klipingnya sudah tidak lagi saya miliki. Yang cukup menggores di ingatan adalah ilustrasi mengenai dominannya penduduk Wonogiri yang melakukan boro, merantau ke seluruh pojok-pojok tanah air. Mereka meninggalkan Wonogiri yang tandus, berbatu kapur, lahan yang tidak membuahkan kemakmuran baik sandang atau pangan bagi warganya. Gambaran lain dari koran itu adalah mengenai keuletan warga Wonogiri berkarya di perantauan.

Cerita-cerita sukses mereka lalu ditunjukkan saat Lebaran tiba. Para kaum boro itu mudik ke Wonogiri, menularkan virus yang sama kepada generasi mudanya. Sehingga selama ini dikatakan bahwa Wonogiri terus-menerus mengalami brain drain, mereka-mereka yang terbaik dipaksa harus pergi dan sukses di luar kota Wonogiri. Secara sinikal, slogan Wonogiri sebagai Kota Wisata di mana kata-kata ini tertempel hampir semua rumah di Wonogiri, mungkin memang ditujukan kepada kaum boro ini. Berwisatalah ke Wonogiri ketika Lebaran tiba !

Akibat brain drain itu, apakah kemudian yang tinggal di Wonogiri hanya remah-remahnya belaka ? Orang bisa berdebat. Tentu saja tidak mutlak semuanya. Karena Harian Kompas itu juga melaporkan kisah sukses warga Wonogiri, di tanah mereka di kota ini. Sebagai contoh mencolok adalah dinasti-dinasti wiraswastawan yang terjun berwirausaha guna melayani kebutuhan warganya untuk ulang-alik, merantau dan pulang itu. Kisah sukses pengusaha-pengusaha bus Wonogiri kemudian dibabarkan.

Terkait perbincangan tentang atmosfir berusaha di Wonogiri, ada satu dua alinea yang saya ingat saat itu. Dipaparkan bahwa akibat latar belakang alam yang keras, sumber daya yang terbatas, konon membuat perangai pebisnis asal Wonogiri selalu sengit dalam bersaing. Bahkan bersikap tegaan satu sama lainnya. Buntutnya, membuat pebisnis Wonogiri lebih suka bekerja sama dengan pebisnis dari daerah lain, dibanding mereka bekerja sama dengan sesama pebisnis asal Wonogiri sendiri.

Kalau boleh diberi label, persaingan itu terjadi karena bersumber dari pola pikir kelangkaan, scarcity mentality. Dunia ini terbatas. Oleh karena itu sukses orang lain berpotensi mengurangi peluang sukses diri saya sendiri. Roti dunia yang bisa mereka makan akan mengurangi jatah roti yang bisa saya makan.

Hidup akhirnya semata menjadi arena persaingan dan perbandingan. “Ketika orang lain sukses, di mulut saya katakan ucapan selamat padanya, dengan senyum juga, tetapi mengapa ada sebungkah kepedihan dan luka besar menganga di hati saya ?”

Apakah sikap mental suka bersaing dan suka membanding-bandingkan itu juga masih mencengkeram mindset warga Wonogiri, apa pun profesi mereka ?

Kutukan oyot mimang. Wacana tentang kontroversi proyek Alas Kethunya Begug akan terus bergulir di hari-hari mendatang. Ribut-ribut itu membuat saya beberapa hari lalu memutuskan jalan kaki pagi, menyusuri jalan yang membelah Alas Kethu itu. Sebelah kiri terdapat area hutan yang dibabat ketika Begug terpilih pertama kali, lalu mencita-citakan area itu sebagai replika Taman Mini Indonesia. Impiannya itu hanya impian, sampai kini. Lalu muncul impian barunya mengenai pabrik etanol tadi.

Jalan kaki saya hanya sampai pertigaan, yang kalau belok ke kanan menuju Seneng Kata “Seneng” itu tertanam di kepala saya sejak Sekolah Dasar. Tahun 1960-an. Muncul dari mulut teman saya, (almarhum) Sri Wahyono. Setiap liburan, ia bilang, selalu ke Seneng. Dengan melintasi hutan, ya Alas Kethu itu, yang jauh lebih lebat dibandingkan saat ini.

Kata dan cerita mengenai hutan atau alas saat itu dari Sri Wahyono (bapak dan ibunya, Sidin Wirotenoyo adalah sahabat ayah dan ibu saya) mampu memberikan eksotika tersendiri di kepala seorang murid SD yang belum pernah mengenal bagaimana hutan itu sebenarnya. Hutan menjadi sesuatu yang hidup dan menawan di dalam kepalanya akibat membaca-baca komik Wiro, Tarzan Jawa.

Atau mendengar cerita dari tetangga, dari anak yang lebih besar. Dari Mas Marino, tetangga saya yang waktu kecil suka mencari kayu bakar ke Alas Kethu, muncul dongengan. Bahwa konon di Alas Kethu itu ada yang namanya oyot mimang. Akar mimang. Akar kutukan.

Ceritanya, kalau Anda melangkahi akar kutukan itu maka Anda akan hanya berjalan melingkar-lingkar di hutan bersangkutan. Tersesat. Tidak mampu menemukan jalan pulang. Kalau tidak ditemukan oleh para pencari, akhirnya kelaparan dan ngenas di hutan. Apakah bupati Begug Purnomisidi kelak juga bernasib menerima “kutukan” serupa, akibat ia berani melangkahi atau bahkan merusak habitat akar kutukan Alas Kethu itu ?

Dunia ini berkelimpahan. “Kutukan” itu sebenarnya sudah terjadi. Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal tanggal 7 Desember 2004 menyajikan data pahit : dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah ternyata Wonogiri termasuk sebagai daerah tertinggal. Status itu mungkin telah menjebak warganya untuk hanya berkubang dalam masalah yang dalam piramida kebutuhan manusia-nya Abraham Maslow disebut kebutuhan primitif. Kebutuhan penyambung hidup. Walau Wonogiri, jelas, tidak sendiri di negeri serba terpuruk saat ini.

Masalahnya, apakah Wonogiri mampu meretas keterbatasan dan keterkungkungannya itu ? Tergantung kepada warga Wonogiri yang tinggal, juga diasporanya yang tersebar di seluruh dunia dalam ikut berwacana membangun Wonogiri. Terlebih lagi, berkat revolusi digital, semua sumber daya (brainware ) itu, di mana pun berada, kini semakin mudah untuk diintegrasikan guna menghadirkan pasar diskusi atau bursa ide yang hidup tentang masa depan Wonogiri.

Sekadar provokasi gagasan : kalau Bupati Sragen kini melangkah dengan membangun sebuah technopark, guna memberdayakan brainware warganya, apakah benak warga Wonogiri hanya puas dijejali udreg-udregan dengan masalah yang berorientasi ke dunia manufaktur, yang menuju senja ?

Kalau di dunia fisik yang terbatas itu sesama warga Wonogiri dikondisikan berpuluh tahun untuk halal saling sikut, atau saling jegal guna memperebutkan jatah roti yang terbatas, maka di dunia digital yang berkelimpahan itu sudah saatnya warga Wonogiri mampu membangun kolaborasi. Semua dapat memperoleh bagian. Semua mampu meraih kemenangan.

“If cyberspace is a nation, it is probably of the most benevolent nations that has ever existed,” kata nabi media digital dari MIT, Nicholas Negroponte dalam wawancara dengan Newsweek (8/1/1998). Dunia maya, dunia digital, adalah dunia penuh kebajikan, penuh berkah. Karena warganya saling tolong-menolong. “It is a place where people help each other,” demikian tutur Negroponte menutup wawancaranya.

Warga Wonogiri, dengan semangat saling tolong-menolong, marilah kita pindah persneling sikap mental yang melatarbelakangi kemelut Alas Kethu, Alaska. Mari kita ramai-ramai menuju Pasadena.

5.GUNUNG SEWU

Gunung Sewu

Gunung Sewu

Pemandangan alam di Wonogiri begitu indah. Daya tarik tempat pariwisata Kabupaten Wonogiri bukan saja Waduk Gajah Mungkur (WGM). Untuk menarik wisatawan menuju Wonogiri, telah dilakukan berbagai terobosan.

Salah satunya dengan membangun museum karst dunia di Gebangharjo Pracimantoro Wonogiri. Kawasan kars gunung sewu ini membentang antara pantai Parangtritis, di kabupaten Bantul hingga teluk Pacitan di kabupaten Pacitan.

Namun,secara administratif kawasan yang berada di kabupaten Wonogiri ini terletak di sebagian besar kecamatan Paranggupito, Giritontro, Pracimantoro, Giriwoyo dan kecamatan Eromoko.

Luas kawasan kars sekitar 18,6% dari luas wilayah kabupaten Wonogiri.Bentang alam karst di wilayah kabupaten Wonogiri disusun oleh aneka bangun asal-pelarutan yang melibatkan batu gamping.

Gejala pelarutan atau yang lebih dikenal dengan karstifikasi itu berkembang di permukaan(eksokarst) dan di bawah permukaan(endokarst).

Di kawasan karst dapat ditemukan adanya karren,bukit-bukit kerucut,sinusoida, pematang, pepino, doplina,uvala, polje, telaga,lembah kering sungai Bengawan Solo purba,ponora,gua dan lain sebagainya. Karren atau lapis bangun pelarutannya ada yang berongga,berlubang,beralur,bersaluran,dan sebagainya.

Sedangkan bukit-bukit terpisah berbangun kerucut atau mempunyai permukaan melengkung(sinuosida)yang letaknya saling berdekatan. Masing-masing indivisdu bukit diselangi oleh lekuk topografi atau dataran yang saling bersambungan.Proses karstifikasi selama ruang dan waktu geologi ,selanjutnya akan membentuk hamparan ribuan bukit kerucut(conical hills), yang menjadi ciri utama dari karst wilayah gunung sewu.

Pada hari selasa,17 Juni 2008, kemarin,saya dan tujuh teman saya mendapat suatu kehormatan untuk menjadi duta atau peserta sosialisasi kawasan Kars Gunung Sewu yang diselenggarakan di Sanggar Kegiatan Belajar Wonogiri.

Kami didampingi oleh tiga orang guru.Peserta sosialisasi tersebut berjumlah 100 orang,yang 75% dalah siswa SMA se-Kabupaten Wonogiri dan sisanya adalah guru pendamping.

Kami mendapatkan berbagai macam fasilitas dari pemerintah Wonogiri. Di antaranya adalah blok not,hand out,topi,kaos,uang transport dan uang saku.Selain itu,kami juga mendapatkan fasilitas penginapan di asrama Sanggar Kegiatan Belajar tersebut.

Kami merasa senang dapat menikmatinya.Sosialisasi ini adalah bentuk kerja sama dari pemerintahan kabupaten
Wonogiri Dinas Lingkungan Hidup Kehutanan dan Pertambangan dengan salah satu universitas swasta di Surakarta,yaitu Universitas Muhammadiyah Surakarta(UMS).

Tujuan diadakan acara ini adalah untuk memperkenalkan kawasan kars ini kepada siswa dan guru demi menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi kami.

Kegiatan sosialisasi dibuka oleh Bupati Wonogiri yang berhalangan hadir dan akhirnya diwakilkan kepada staf pembantu kerjanya.Pemberian materi yang pertamaatau season pertama oleh Drs.H.Kuswaji D.Priyono,M.Si yang merupakan staf pengajar bidang Geomorfologi Fakultas geografi UMS.Beliau menjelaskadefinisi karst,museum karst,materi aneka potensi dari kawasan Kars Gunung Sewu di wilayah Wonogiri.

Istilah karst berasal dari kata kars dari negeri Slav yang berarti batuan. Selanjutnya karst digunakan sebagai istilah untuk kawasan batu gamping dan dolomite yang mempunyai bentang alam dengan ciri khas sebagai akibat proses pelarutan.

Selain itu,beliau juga menjelaskan berdasarkan analisa,baik menurut sistem 5W+1H maupun sistem SWOT.Berbagai macam gambar dan foto yang sangat indah dan menarik diperkenalkan kepada kami melalui layar LCD,antara lain singgasana yang ditemukan dalam gua,fenomena gua,air terjun bawah tanah,lembah Bengawan Solo Purba,telaga yang mulai mengering dan lain sebagainya.

Kami sangat takjub melihat hasil ciptaan dari Allah Swt. Bentuk lahan utama menurut genetik,yaitu bentuk lahan asal struktural,vulkanik, denudasional,fluvial,marin,solutional,eolian,dan organik. Bentuk lahan solutional atau topografi karst meliputi kubah karst,perbukitan karst,perbukitan sisa karst,uvala,ledok karst dan dolina.Dolina adalah lekuk topografi yang terrletak di antara bukit batu gamping,dengan bangunannya yang membundar atau lonjong.Lekuk dolina umumnya tertutup dan mempunyai garis tengah mulai beberapa meter hingga lebih ddari 30 meter.Setempat lekuk tertutup itu dibatasi oleh dinding batu gamping yang terjal,setinggi belasan meter.

Sampai sekarang ada sekitar 15 peraturan perundang-undangan yang terkait pengembangan kawasan karst,mulai UU No.11/1967 tentang ketentuan-ketentuan yang pokok pertambangan hingga keputusan Menteri Energi dan Sumber daya Mineral No.1456/2000 tentang pedoman tata cara klarifikasi kawasan karst.

Namun,yang menjadi pertanyaan mengapa pada kenyataannya kerusakan kawasan karst di Indonesia kini semakin meluas.Faktor apakah yang mempengaruhinya? Pada forum tanya jawab dan cukup banyak pertanyaan yang diajukan oleh kalangan guru dan hanya ada beberapa siswa yang bertanya.Acara ini cukup menarik. Season kedua disampaikan oleh bapak Suharjo yang juga merupakan dosen fakultas geografi UMS.Beliau menjelaskan mengenai geomorfologi kawasan Kars Wonogiri dengan menampilkan gambar pegunungan kapur. Selain itu,beliau juga menjelaskan proses geomorfologi, bentuk lahan daerah Wonogiri,alat untuk kajian geomorfologi,syarat terbentuknya kars,dan potensi sumber daya alam.Bentuk lahan daerah Wonogiri secara umum merupakan bentukan struktural daerah plateau.

Pada bagian utara merupakan perbukitan baturagung dan di bagian selatan,bentuk lahan topografi karst.Pada forum ini juga diadakan tanya jawab yang cukup menarik.Acara ini berlangsung pukul 13.00-14.30 WIB.Setelah acara itu adalah ISHOMA.Season ketiga disampaikan oleh anggota KMPA Giri Bahama dari fakultas Geografi,UMS.Mereka menjelaskan alat-alat yang diperlukan dalam penelusuran gua atau caving dan panjat tebing.Selain itu,mereka memutarkan film dokumenter mengenai penelusuran gua dan pencarian sumber air bawah tanah di kawasan kars tersebut.Ada perasaan takjub,heran,sekaligus ngeri,melihat perjuangan para mahasiswa tersebut ketika memasuki luweng yang kedalamannya lebih dari 100 meter.

Dengan resiko yang sangat tinggi,mereka masih tetap tegar melaksanakan kegiatan tersebut demi mendapatkan air dengan jiwa pengabdian yang sangat tinggi,jiwa nasionalisme yang sangat hebat mencarikan sumber air untuk masyarakat sekitar luweng yang setiap musim kemarau tiba,selalu kekurangan air.

Bagi siswa yang mempunyai jiwa petualang tinggi,secara tidak langsung termotivasi untuk melakukan kegiatan petualangan.Sampai-sampai sekolah kami ,SMA Negeri 1 Baturetno yang mempunyai kegiatan ekstra kurikuler pecinta alam mengharapkan kehadiran mas Joko Sulistyo dan kawan-kawan,untuk membimbing dan mengarahkan kegiatan tersebut.Sebenarnya,saya berharap semoga film dokumenter tersebut tidak hanya untuk dokumentasi dari pihak UMS saja.Tujuannya agar siswa yang belum menyaksikan acara film tersebut dapat tertarik untuk mempelajari mata pelajaran geografi secara khusus.Namun sayangnya,permintaan saya ini belum dapat dipenuhi atau belum bisa dikabulkan dengan alasan belum mendaftarkan hak ciptanya.Akhirnya,saya
dan peserta lainnya dapat memahami alasan tersebut.

Pada hari kedua,kami dibawa ke kawasan kars tersebut untuk melihat secara langsung,yang letaknya berada di kecamatan Pracimantoro.Perjalanan kami menggunakan armada bus dengan urutan nomor tiga.Kami dari SMA Negeri 1 Baturetno duduk berdampingan dengan SMA Pangudi Luhur Giriwoyo.Perjalanan ini sangat mengasyikkan.

Kami dipandu oleh salah satu mahasiswa yang bernama Joko Sulistyo.Saya mencatat tentang hal-hal yang telah diterangkan oleh mahasiswa tersebut. Kamipun tiba di sisa pertambangan kalsit yang terletak di dukuh Pule,desa Gedong,kecamatan Pracimantoro.Pertambangan yang dilakukan di tempat ini adalah salah dan dapat merusak lingkungan alam.Salah satu penanganan terhadap kerusakan kawasan ini adalah dengan diadakan reklamasi.Reklamasi adalah upaya untuk mengembalikan lahan tambang menjadi lahan pertanian dengan cara diratakan tanahnya.Di sana juga dapat ditemukan adanya pabrik kalsit. Perjalanan selanjutnya adalah menuju daerah lembah Bengawan Solo Purba yang kini lahannya digunakan untuk lahan penanaman palawija,khususnya ketela pohon.Di daerah ini,kami tidak menemukan adanya pemukiman penduduk karena wilayahnya yang relatif sepi.Lembah ini terletak kurang lebih 1 kilometer ke arah pantai Sadeng.Lembah kering yang panjangnya lebih dari 21 km itu berbelok-belok dan membentuk kelurusan ke arah tertentu.

Salah satu luweng dapat ditemukan di sini,tetapi kini ditutup dengan batu agar tanah tidak ikut masuk dan biar hanya air saja yang meresap ke dalam tanah tersebut.Contour yang dapat dilihat,Bengawan Solo Purba diapit oleh 2 bukit dan memanjang ke utara-selatan.Mula-mula lembah membujur lurus ke selatan,kemudian berbelok ke barat daya ke barat.Selanjutnya,secara tiba-tiba membelok lagi ke selatan,lalu ke tenggara dan akhirnya ke barat daya sebelum bermuara di pantai sadeng.dinding lembah yang tingginya 20-75 meter mempunyai kemiringan yang curam,rata-rata lebih dari 60 .Lebarnya berkisar antara 40-100 meter. Mula jadi gejala eksokarst tidak berkaitan dengan proses pembalikan arah aliran Bengawan Solo purba pada zaman kuarter Sebagaimana diduga oleh ahli-ahli sebelumnya.

Setelah seluruh cekungan pegunungn selatan terangkat pada pada permulaan kuarter,di permukaan batu gamping di daerah Wonogiri sekarang mengalir sebuah sungai permukaan yang berhulu di bagian utara gunung sewu dan bermuara di samudera Hindia.Di beberapa dinding lembah kering ini dapat dijumpai adanya system perguaan pendek,atau ceruk,yang letaknya berhadapan(sebelah-menyebelah).di dalam gua-gua itu dapat dijumpai adanya artefak atau kepingan tulang vertebrata dan cangkang kerang yang diduga sebagai sisa makanan manusia prasaejarah.Keadaan itu mendasari anggapan jika gua-gua di sepanjang lembah kering Giritontro merupakan situs gua arkeologi,yang pernah menjadi huniaan atau persinggahan manusia prasejarah.Yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa aliran Bengawan Solo Purba kini mengalami perubahan ?

Kami melanjutkan perjalanan ke sumber air permukaan tanah kapur menuju telaga yang mulai mengering.Telaga ini yang tertutup tanah terra rossa.Penjelasan yang kami dapat selain itu adalah adanya efek yang timbul akibat dari pemberian semen terhadap telaga tersebut.Itu akibat adanya kontak antar bahan kimia penyusun semen dengan batu gamping di daerah tersebut.Sehingga terjadilah air yang masuk ke dalamnya. Vegetasi endemik karst antara lain pohon jati dan buah srikaya..Manis atau tidaknya buah-buahan itu ternyata dipengaruhi oleh adanya kadar air yang ada di tanah itu sendiri.Setiap tumbuhan yang ada,dapat digunakan sebagai penunjuk lokasi terdapatnya air atau lebih dikenal dengan asosiasi.Misalnya beringin yang bisa memberi petunjuk lokasi gua yang banyak air dan juga mulut gua.

Perjalanan masih tetap berlanjut.Banyak di antara rombongan bus yang lelah.Namun,kami tetap bersemangat untuk berpetualang.Kami sampai juga di kawasan karst dunia.Wilayah ini terdiri atas tujuh gua yang terdiri atas gua Tembus, gua Mrico, gua Sodong, gua Sapen, gua Bunder Potro, gua Gilap dan gua Sonyaruri. Masing-masing gua, diberi nama sesuai dengan harapan dan laku spiritual para pengunjung gua di masa lalu.Kami mengunjungi gua Gilap, gua Tembus, gua Sodong, gua Mrico. sebenarnya, saya ingin melanjutkan ke gua yang lainnya,tetapi waktu yang terbatas.

Gua Gilap terletak kurang lebih 300 meter dari arah jalan raya,berada lereng bukit bagian bagian bawah.Saat akan menuju ke gua ini,kami melihat daerah ini digunakan sebagai tempat pembuangan sampah.Fenomena ini kurang sedap dipandang.Seharusnya,daerah wisata ini bebas dari serakan-serakan sampah dan baunya yang menyengat sehingga mengurangi keindahan alam.Gua yang juga terletak stalagtit.Selain itu,siluet gua Gilap berlawanan dengan arah penyinaran matahari.Stalagtit yang membelok ke arah matahari karena lubangnya tertutup oleh endapan-endapan mineral sehingga memnbentuk lubang baru ke arah timur.Bagi penelusur gua ini,dapat mengetahui keadaan waktu siang atau malam hari dengan menggunakan jam alami.Jam ini terjadi karena adanya pergantian penghuni gua yaitu burung sriti dengan kelelawar.Bila waktu siang,penghuni guanya adalah kelelawar,dan jika burung sriti masuk ke gua,kelelawar ke luar itu berarti waktu muli malam.Namun masih disayangkan keadaannya yang indah harus dinodai dengan adanya coretan-coretan tangan.

Gua tembus adalah salah satu gua yang telah dicanangkan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono,6 Desember 2004 lalu. Gua ini indah, dihiasi stalaktit dan stalagmit. Di beberapa rongga di dinding gua terlihat cahaya temaram yang makin menambah eksotisme gua..Dalam memasuki gua ini,kami melihat adanya peraturan-peraturan yang dipasang di dinding gua. Salah satunya adalah kita tidak boleh membuang sampah di sana.Yang menjadi alas atau lantainya adalah pasir yang berasal dari Nampu. Setelah kami ke luar,kami menjumpai adanya persinggahan yang atapnya berasal dari jerami padi.

Lokasi obyek wisata yang selanjutnya adalah gua sodong.Keunikan gua sodong dibanding gua yang lainnya adalah atapnya yang sedikit basah.Gua ini merupakan hasil pelarutan dari batuan kapur dan suasana yang terlihat di dalamnya gelap tanpa adanya penerangan.Di sini juga dapat ditemukan sumber air yang digunakan penduduk sekitar untuk mencuci dan mandi.

Gua Mrica bentuknya kecil,sedikit bulat seperti merica dan ditemukan vegetasi tumbuhan awar-awar.Pada gua ini jalannya buntu dan ditemukan adanya bekas stalagtit yang terpotong.Materi penyusun gua ini adalah kristal kalsit.

Di sekitar gua tersebut digunakan sebagai museum karst dunia yang sedianya akan diresmikan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono.Namun,sampai sekarang belum terlaksana dan pembangunnya akan dimulai dalam waktu dekat ini.

Di lokasi inilah kegiatan sosialisasi diakhiri.Banyak kesan dan pesan yang kami rasakan.Di antaranya adalah kami senang dengan acara seperti ini.Wawasan kami bertambah dan dapat membandingkan antara teori-teori yang telah disampaikan dengan kunjungan yang ada di lapangan.

Leave a response and help improve reader response. All your responses matter, so say whatever you want. But please refrain from spamming and shameless plugs, as well as excessive use of vulgar language.

One Response to “Pariwisata di Wonogiri”

  1. siulung23

    thank you for your comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.